Thursday, September 23, 2010

KELUARGA INGIN BERTEMU DENGAN NIBRAS

Keluarga Ingin Bertemu Nibras

TEMPO Interaktif, PASURUAN - Keluarga tersangka terorisme Nibras Hud, ingin bertemu dan bertatap muka langsung dengan Nibras. Mereka tidak pernah bertemu sejak kepergian Nibras sembilan bulan lalu. "Saya ingin bertemu, termasuk kakak dan adiknya," kata paman Nibras, Syadid Abdullah Musa yang juga pengurus Pesantren Persatuan Islam Bangil, Kamis (23/9).

Menurut Syadid, Nibras meninggalkan rumahnya di Jalan Anggur Nomor 662 Kidul Dalem, Bangil, Kabupaten Pasuruan, tanpa pesan apapun.

Sejak meninggalkan Bangil, pihak keluarga mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Nibras. Bahkan, setiap kali dikontak, Nibras mematikan telepon seluler dan tak bersedia menyebutkan di mana ia berada.

Sesekali Nibras menelepon kedua kakaknya Zuhal, pegawai bank milik pemerintah di Jakarta, dan Jihad, pegawai bank syariah di Surabaya. "Saat ditanya di mana dia berada, Nibras hanya bilang rahasia," ujar Syadid.

Nibras juga pernah menyatakan dirinya tidak bisa menghadiri pernikahan kakak pertamanya Zuhal 10 Oktober mendatang. Menurut Syadid, Nibras tiba-tiba menelpon kakaknya jika kangen. Dalam komunikasi tersebut, Nibras hanya menanyakan kabar ibu dan adik-adiknya. Namun Nibras tidak bersedia menyebutkan aktivitasnya selama meninggalkan Bangil.

Keluarga Nibras dikenal sebagai keluarga yang taat beragama. Bahkan dikenal sebagai pengurus Pesantren Persatuan Islam Bangil. Ayahnya, almarhum Hud Abdullah Musa adalah guru agama dan aktif dalam penerbitan Al Muslimun warisan keluarganya yang didirikan tahun 1954.

Al Muslimun menerbitkan majalah bulanan dan buku yang membahas mengenai hukum dan pengetahuan agama Islam. . Namun, usaha penerbitan tersebut bangkrut dan tutup pada 2003 lalu.

Zainal, bekas pegawai Al Muslimun mengaku mengenal Nibras sebagai sosok pemuda yang supel dan akrab dengan orang yang sudah dikenalnya. Terakhir, ia bertemu Nibras sembilan bulan lalu di Surabaya. Saat itu, masih menjalani pendidikan di Ma'had Umar Bin Al-Khattab Surabaya. EKO WIDIANTO.

No comments:

Post a Comment