Monday, October 18, 2010

KENANGAN AHMAD DAVID

Terra Incoqnita

Aku teringat pada sisipan daftar kreatifitas Abiedah el-Khaliqy yang pernah disisip dalam lembaran buletin Kifayah. Tentu, awak masih ingat, bagaimana dulu semangatnya kita menjenguk sebuah kedai buku yang terletak disisi selatan alun-alun Bangil. Sebuah kota yang mungkin, timbul-tenggelam dalam gegap gempita arus pendidikan Islam tanah-air.

Aku masih hapal lorong-lorong kota kecil unik itu. Sebuah kota yang dipanggang terik matahari khatulistiwa. Selain kenangan pada puluhan pesantren yang tersebar sepanjang kota santri yang mengapung dalam perbendaharaan tulis-menulis tuan A. Hasan. Aku tak tahu apa alasan alim besar ini memilih 'hijrah' dari Bandung ke Bangil?

Kenapa, misalnya ulama jenius ini tidak saja memilih kota lain yang berhawa sejuk terletak dikaki pegunungan, misalnya Malang atau kota lainnya. Atau kenapa Surabaya yang pernah terbakar dalam api revolusi menjadi pilihan utamanya. Padahal Bangil hanya 'sepelemparan batu' dari Surabaya. Bukankah masa itu Surabaya berdegup kencang dengan pekik Bung Tomo yang riuh-rendah meneriak yel-yel:"Arek-arek Suroboyo!".

Tentu awak masih ingat pada perbincangan kita pada suatu hari dengan seorang tua yang tak sengaja kita temui disebuah kedai buku tadi. Dia menawarkan kita 'bertamu' kerumahnya. Dan kita pun datang sebelum habis gegas malam dialun-alun luas itu. Dia mengaku sama kita, bahwa sekolahnya tak selesai, namun minat baca lelaki tua beruban itu tak pernah padam. Kita pun tak sengaja berkenalan pada kedai buku yang banyak menjual kitab-kitab terbitan Timur-Tengah dan buku-buku Indonesia terbaru.

Namun, yang paling kusuka, dikedai buku itu aku tak pernah merasa 'terusik', karena keasyikan membolak-balik buku-buku yang dipajangkan. Padahal, kalau kita cari karya-karya tuan A. Hasan, pasti awak salah alamat. Mungkin, pemilik kedai buku itu tak pernah tahu, bahwa kita tengah menimba ilmu pada anak-cucu tuan A. Hasan.

Ada kawan-kawan bilang, pemilik buku itu orang syi'ah dan sebuah pesantren terletak kearah Pandaan adalah penyokong utamanya. Aku pernah menyaksikan mereka berhiwar dan munaqasyah khas pengagum Imam Khomaini. Aku tak pernah tertarik pada hirau dengan arah pembicaraan mereka, meski aku juga sangat selektif dalam membeli sebarang buku ditoko buku itu.

Aku tak mau mengenang Bangil dalam sendu nostalgia rapuh. Aku mengingat-ingat Bangil sebagai gugus terra incognita yang tak terpisahkan dalam lebuh raya kehidupan. Sebuah keingatan pada kenangan selalu menumbuhkan nostalgia yang menyala-nyala. Lalu, acap kali menimbun kerinduan pada seseorang/sesuatu yang menembus batas ruang dan waktu.

Sepotong kota yang kuingat rapat dengan lorong-lorong kecil, bangunan tua, sarang walet, minyak wangi, sepuh logam. Selain antara pertempuran kilau kandil ilmu dan gegap kapitalisme, yang ditandai industralisasi yang mengepung penjuru kota tua ini. Sepertinya, pertempuran yang makin menghebat.

Aku tak tahu, mengapa dikota itu aku menemukan laju arus informasi keilmuan seperti tak pernah diam. Awak bisa bandingkan dengan kampung tua pelem di Pare, Kediri yang pernah kita singgahi dulu. Bangil bukan seperti Kediri yang termasuk tak beruntung. Meski kota kecil, Bangil melintang dalam arus jalan raya pesisir pantai utara. Kota-kota yang terletak sepanjang pesisir pantai utara pulau Jawa lebih 'hidup' ketimbang kota-kota selatan.

Aku ingin mengajak awak, sekedar mengait-ingat pada sebuah kota yang juga mengalir laju dalam darah Tuan A. Hasan puluhan tahun lampau. Aku ingat kisah yang kudengar dari Pak Wil (Ustadz Wildan), bahwa Ustadz Hasan pernah menemui Soekarno yang berhenti sejenak di stasiun kereta api tua itu. Kisah ini dipungut Pak Wil dari seseorang yang menjadi 'saksi mata' dari pertemuan antara Guru-Murid. Tentang kisah surat-menyurat A. Hassan-Soekarno dapat awak simak dalam buku "Di Bawah Bendera Revolusi", yang mendedah persahabatan surat-menyurat (korespondensi) antara Tuan A. Hasan dan Soekarno dipengasingan tahanan Ende. Buku ini sudah kubaca pada perpustakaan pesantren dulu.

Pada subuh tadi, aku menemukan resensi tentang novel Geni Jora-nya Abiedah el-Khaliqy yang mekar dalam laman kesusastraan tanah-air. Abiedah seakan menerobos sisi yang tak terlalu terekam dalam minat santri Persis. Aku belum membaca Novel ini, kalau awak sempat temukan, adakah Abiedah 'menyinggung' kisah dunia pesantren tua pada kota kecil itu?

Wassalam,

Le Caire, 13 September 2005

Dave Kahlil





Bangunan tua
  




Masjid Al-Manar al-Islam, Bangil
  




Tahta al-Manarah
  




Maktabah Pesantren
  




Kamar Atas (Pengurus)
  




Zaman Kemaruk Partai-partai
  




Kunjungan Menag Tarmizi Taher
  




Ustadz. Sudarpo
  




Allahu yarham Ust. Lathif Mukhtar, MA
  




Sang Menteri
  




Ustadz. Salehan
  




Allahu yarham Ustadz Hud Abdullah Musa, MA
  




Bapak Reformasi
  




Bang Yusril Ihza Mahendra
  




Ustadz Umar Fanani, BA
  




Ustadz Hud AM
  




Allahu yarham Ustadz Hussein Umar
  




Malam Wisuda Santri
  




Ambil gambar
  




Kawan-kawan
  




Idem

No comments:

Post a Comment